Wednesday, June 12, 2013

Akan kujumpai ramadhan dengan bekal yang cukup. Akan kutemui ibuku dengan rindu yang kupupuk dengan cinta. Akan kuziarahi ayahku dengan hormat, cinta, dan kesyahduan. Lalu akan ku lamar bungaku yang sedang mekar, dengan cinta, niat yang lurus, dan cita-cita yang seputih salju. Insyaa-allah..

Tuesday, April 23, 2013

Suatu waktu

Suatu waktu dini hari, aku terbangun dengan penuh haru, menyadari betapa dekat aku denganNya, seolah-olah aku benar-benar berada dalam pelukanNya, dibangunkan dengan lembut untuk merasakan puncak dekapan pada sepertiga malam yang terakhir. Terimakasih tuhanku..

Friday, March 29, 2013

Menjelang Rebah

menjelang rebah beralas tikar
kusadari banyaknya senang gembira yang kudapat
sejenak ingin kuhitung mereka
tapi tidak..!
seberapa banyak jumlah yang kukumpulkan
tidak membuatku istimewa
semua hanya akan membuktikan kemurahan hatimu
s a j a

saat terbengong atau tertawa cekikikan..
aku tak akan lupa banyaknya kenyataan menyebalkan!
amarah membuatku ingin membanting mereka
dalam kepingan
lalu mengorek semuanya
kekecewaan yang hampir menjadi tuan rumah
tapi tidak..!
seberapa banyaknya mereka
tak akan mengubahku jadi pembencimu
mereka adalah hadiahmu
mereka bagai kulit ari
tidak, bukan!
mereka bagian dari pakaianku!

mungkin saja aku ingin mengumpulkan semua kesenangan-kesenangan
keindahan-keindahan
kesempatan-kesempatan
kenikmatan-kenikmatan
tapi aku tau
aku tak akan selesai hingga nyawaku terlepas
mungkin aku malah mati tenggelam dalam hitunganku sendiri

pun saat muncul keinginan
menguliti kesedihan demi kesedihan
kekecewaan-kekecewaan
dan harapan-harapan kosong!
ya, sahabat-sahabatku itu..
tapi jangan-jangan mereka akan menguburku
dengan jumlahnya yang tak terhitung!
tak mungkin selesai kucantumkan jumlahnya
dalam buku
dalam kertas
dan dalam hati saja

ah.. baiklah aku menyerah!
dewi kesenangan dan dewa kesedihan
mereka memang saudara saudari seayah
yang berbeda raut muka dan jenis kelamin
tapi mereka berjalan bersisian!
mereka bergandengan tangan mengantarku menuju setiap senja
menemaniku berlari-lari kecil,
bermain layangan,
atau melintasi alam,
lalu membacakan dongeng atau lelucon
hingga aku terbang terlelap
benar-benar rebah!
menuju keabadian yang tertunda

Yogyakarta di penghujung Maret 2013

Kebebasanmu?

Melihat alam sekitar
Mendengar suara hati
Membayangkan aura manusia bertebaran
Dan membaui aroma kefanaan,
Sungguh menakjubkan!

Menebarkan sukma
Merasakan keindahan tersembunyi
di kegelapan
Dan menyatu dengan udara
Sungguh membirukan!

Kau tak perlu lagi menjadi manusia super
Untuk membaca hati
Mendengar pikiran
Menerawang hari esok,
dua jam akan datang,
atau lima menit di muka

Merasakan sendi-sendi tulangmu sendiri
Menyadari tengkorakmu mengeras
pada ketika tertentu
Dan jantungmu cuti tanpa administrasi
untuk selamanya

Kau adalah manusia bebas!
Sebebas semua kemungkinan yang dapat berlaku
padamu
Pada jasadmu
Pada jiwamu
Pikiranmu
Kenanganmu
Angan-anganmu
Obsesimu!

Jauh, sejauh yang dapat kau terawang
empat puluh lima derajat di depan wajahmu
Dan beberapa satuan panjang lagi
Yang tak dapat dikejar
oleh bola matamu

Sebebas lalat yang tak mudah kau pegang
Selincah ikan lele yang tak mudah kau cubit
Atau angin yang ingin kau tangkap
Kau adalah kau,
yang kau inginkan
Bebas, lepas, ke arah yang kau pikirkan
Ke dimensi yang kau tuju
Ke lapisan langit yang pernah kau terka lattitudenya

Kau mendefinisikan dirimu,
wujudmu,
maknamu,
semangatmu
Terserah kau!

Yogyakarta, Maret 2013

Thursday, March 28, 2013

Salam Rindu

malam temaram
sinar bulan turun lewat jendela
menggantikan lampu sintetis
aku terbangun, kau mungkin terbangun
aku mengingat, kau mungkin berdoa
aku merindu, kau lebih rindu
aku tau!

saat fajar bergelayut di timur
orang-orang bergerak menyusul matahari yang memanjati horison
mencari isi dunia, mengumpulkan arti
menggali rasa lelah, lagi, dan lagi

sementara aku selalu mencari sosokmu
pada wanita-wanita yang menjajakan dagangan di pinggir jalanan
pada ibu-ibu tua yang memanggul karung beras di pasar
pada wanita paruh baya yang meracik makanan di warungnya
pada perempuan muda yang direngeki putri kecilnya di sebelah penjual makanan kecil
di samping jalan, dekat sekolah

sedangkan
orang-orang yang lupa
orang-orang yang menjadi diri mereka sendiri

bolehkah mereka menghitung rasa lelahmu,
gumpalan bebanmu,
endapan khawatirmu,
dan cicilan harapan yang kau kumpulkan
untukku yang kini meninggalkanmu
dengan bekal kalimat restumu?

bolehkah mereka mengganti rasa takut,
cemas,
rentan,
lapar
yang dulu kau hapuskan
dari mereka?

cukupkah mereka mengingatmu
pada hari tertentu di akhir tahun masehi
untuk menghormatimu, seperti kata mereka?

sedangkan aku
andai kuraih kesempatanku
jika tak kenal aral dan kewajiban
ingin rasanya kucium tanganmu setiap pagi dan petang
kucicipi dan habiskan masakan cintamu
bersamamu dan saudara-saudariku
kucium wajahmu dengan penuh cinta, hormat, khidmat
kupenuhi semua janjiku untukmu

puluhan dan ratusan senja berganti
yang kulakukan hanya menapaki jejak pengorbananmu,
cintamu,
harapmu,
yang kumiliki hanya sosokmu dalam kertas,
suaramu yang tak selalu dapat kudengar
dan doamu yang terus kau panjatkan untukku
tangismu yang selalu kuingat
meski semua ini bagian dari kefanaan
hal yang menakjubkan jika semuanya menempel bersamaku
bersama nafasku
jiwaku
hingga kefanaanku selesai!

ibunda
untaian sejak yang mungkin indah,
mungkin buruk,
kutulis untukmu
hanya untuk menyampaikan kalimat istimewa, untukmu
salam rindu, dan bakti.

Yogyakarta, Maret 2013


Wednesday, March 13, 2013

Sebuah Alasan

Wahai kau yang sering menatapku..
Aku tak pernah benar-benar memahami dirimu
Sebenarnya, apa kau juga terbuat dari tanah lalu air mani dan ovum?
Apa kau juga makan nasi dan punya suhu yang tinggi?

Baiklah
Mungkin banyak kesamaan antara kau, dirimu, diriku, dan aku
Tapi masih ada yang membuatku tetap gagal paham
Mengapa kau menginginkanku?

Apa kau mencintai jasadku?
Jasadku akan terurai pada salah satu unsur alam
dan tak tersisa

Apa kau mengagumi keterampilanku?
Tidak ada keterampilanku yang tidak melibatkan anggota jasmaniku

Apa kau jatuh cinta karena oleh siapa dan untuk apa aku dilahirkan?
Oke. Dilahirkan secara istimewa, dan juga akan tetap terurai

Apa kau menyukai sifat dan watakku?
Yang tidak melibatkan jasad?
Oke, sedikit masuk akal.
Mungkin mereka tidak ikut terurai, dan akan kekal entah di firdaus atau jahanam atau tempat yang lain
Tapi, benarkah kau mengharapkan akan hari-hari yang jauh mendatang pada keadaanku yang terkini?

Maafkan aku yang dipenuhi rasa ingin tahu
Tapi sejujurnya, kita memang tidak jauh berbeda dalam hal material dan tingkah laku
Dan aku tidak punya cukup minat pada apapun dan siapapun
yang tidak akan berlangsung selamanya

Apa ini jawaban yang masuk ke dalam daftar kemungkinan
di buku harianmu?
Baiklah, selamat!
Kau baru saja menghadapi kenyataan.

Kenyataan.

Yogyakarta, Maret 2013


Monday, March 11, 2013

Bukan Sajak, Bukan Kejelasan!

Orang ingin terbang ke langit biru, kebebasan..
Langit? Biru?
Siapa yang bilang langit berwarna biru?
Dia hanyalah refleksi ketakmampuan indra manusia menatap ketakterhinggaan
Siapa yang bilang langit adalah hamparan ketinggian?
Dia hanyalah kekosongan angkasa!
Lalu orang-orang ingin terbang mengejar kekosongan?




Orang ingin sendiri untuk menyepi, lari dari kesebalan
Siapa yang bilang dengan bersendiri kau akan mendapatkan sepi?
Dengan bersendiri, orang asing akan menyapa atau mengganggumu
Dengan bersendiri, binatang-binatang yang tidak tidak mengenal diet akan memangsamu
Dengan bersendiri, orang-orang akan mengiramu melupakan dirimu atau tertinggal sanak kadang
Dengan bersendiri, mereka yang tak terlihat akan tergoda untuk mengusilimu
Lalu orang-orang ingin lari dari hal-hal menyebalkan, tapi lalu ingin diganggu?

Orang ingin keliling dunia, mengagumi ciptaan tuhan
Keliling dunia untuk menjelajahi tempat-tempat baru
Keliling dunia untuk menaklukkan rasa penasaran
Keliling dunia untuk membuktikan sesuatu
Benarkah?
Berapa tempat yang bisa kau singgahi, dalam setahun?
Berapa gunung yang bisa kau daki, dalam setahun?
Berapa tebing yang sanggup kau hinggapi, dalam setahun?
Berapa jumlah kerabatmu?
Berapa banyak hal-hal yang disukai ibumu?
Berapa banyak hal yang diinginkan adikmu?
Sebenarnya dengan berkata tidak, kau telah menjadi asing terhadap sekelilingmu
Dan pada akhirnya, kau menjadi asing dengan dirimu sendiri
Lalu kau hendak meninggalkan dirimu sendiri?

Orang ingin melakukan hal-hal hebat di dunia, dan dikenang
Ya, masuk akal
Hal hebat seperti apa?
Menaklukkan kawanan serigala?
Menyeberangi gurun?
Membangun rumah di atas awan?
Menciptakan musik air murni?
Bepergian ke Venus?
Menjelajahi dunia kerak bumi?
Benar-benar hal-hal hebat!
Aku ada ide menarik..
Bagaimana kalau menaklukkan ego dan ambisimu sendiri
Lalu menjadi seseorang yang tidak terikat oleh keinginan?
Ya, sedikit aneh.. Keinginan untuk terbebas dari keinginan, apakah merupakan sebuah keinginan?

Sebagian orang menjadi bingung di tengah malam
Sebagian orang menjadi bingung saat tak ada teman bicara
Sebagian orang menjadi bingung saat diharuskan bercengkerama dengan dirinya sendiri
Mungkin kamu termasuk di antaranya?
Atau mungkin bisa jadi AKU?

Tuesday, February 26, 2013

Wahai Jiwa

wahai jiwa yang rentan,
yang rapuh,
yang mudah terlena oleh nikmat,
dan terluka oleh kesedihan,
apa kau akan terus berkelana
di dunia yang tak kau tau di mana ujungnya?
jika kau lelah
diamlah sejenak
bersandarlah pada angin kala siang
atau pada malam yang gelap
atau pada kabut tebal yang menggumpal di awal pagi
temukan ketenangan air tanpa riak, lihat siapa dirimu
wahai hati yang tidak kekal




segala yang ada dalam jangkauan bukanlah milikmu
di sini bukanlah tempat terakhirmu
janganlah menjunjung tinggi kesenangan
dan janganlah merasa tak beruntung
oleh kesedihan,
derita,
sengsara,
tak bahagia
mereka tak akan lama bersamamu
tak kan lama lagi kau akan terbebas!
wahai jiwa yang fana

wahai jiwa yang rentan,
yang rapuh,
kau telah hadir cukup lama
sebenarnya siapa dirimu?
apa yang kau cari?
ke mana tujuanmu?
demi jiwamu
yang kini fana
demi jiwamu
yang akan jadi kekal
setelah kau serahkan pada suatu ketika
suatu waktu yang rahasia
tapi niscaya
pasti!

Yogyakarta, Februari 2013

Sunday, February 24, 2013

Different Ages

So, i have found new friends.
We built many interests in music. Playing acoustic ones, etc.

Since i told one of them about me -- you know -- which was originally from a different era than them, i know everything wouldn't stay the same anymore.
Maybe i would look like the odd one.
Maybe yes, maybe no, maybe ouchh...

You know what..?
People told me, whoever can involve in you (in solving your problems), get you in your ups and downs, yeah, they call this thing as true friendship...

But i guess everything about this stuff is a mess..!
Can't you just go anywhere, put your body in any place you want, do whatever you want to, thinking nothing but your self..?

Okay, maybe i'm definitely an odd compared to them (and everyone else). But look at the other side. Maybe i'm just one lucky man. One in a hundred, maybe. The one who's not easy to be.

Arrgghh.... Okay. I'm done.

Sunday, February 17, 2013

Bagaimana caranya?

Nurutin semua keinginan dunia emang gak akan ada habisnya.. Hari ini pengen barang ini, lusa pengen melakukan hal itu, and once you achieve it, you need to achieve more and more.. Melelahkan juga sebenarnya. Yang paling parah kalo keinginan yang motivasinya adalah orang lain... Aaakkhhh... But.. Can we let them go, ever? Pasti ada satu cara.. (seperti hidup mengembara misalnya, who knows?)

Wednesday, February 13, 2013

Hmmm...

Aku tau, kesehatan adalah segalanya, tanpa jiwa dan tubuh yang sehat, apa yang bisa kita lakukan...?
But this is going too far...
Aku heran, begitu banyak orang yang merasa cukup dengan tidur hanya empat atau lima jam sehari, tanpa mengeluh.. Dan aku...? Kurang istirahat sedikit saja badanku langsung K.O. Sebenarnya memang badanku yang kualitas second atau jiwaku yang kurang tahan banting?
Aneh..
Tapi sebenarnya, mungkin aku cuma kurang pandai bersyukur...!

Kusaksikan teman-temanku satu-persatu meraih apa yang baik buat mereka. Lulus, menikah, mendapatkan posisi di pekerjaan, dan lain-lain, dan lain-lain. Yang kutau, sehari-harinya tidaklah mudah buat mereka. Banyak aral yang terkadang menurutku justru adalah hal yang tidak terlalu memusingkan, mereka bergelut dengan kesukaran, dan.. there they go.... Memang hasil tidak ditentukan dari apa yang kita punya, tapi dari apa yang kita lakukan. Aku seharusnya malu...! Aku kurang ulet!

Aku melihat banyak orang-orang di sekitarku, penuh keterbatasan, dilingkupi kondisi yang kurang ideal, tapi mereka punya semangat yang tidak pernah habis... Mereka saling bergurau, saling ledek, saling mencomooh dalam arti yang produktif, dan jelaslah yang bisa kudaaptkan hanyalah rasa iri dan cemburu atas begitu besarnya keceriaan yang mereka hasilkan. What a shame!
Apa aku terlalu serius? Apa aku kurang banyak mengalami tekanan dan stress di hari-hari yang lalu, sehingga langsung njeglek saat harus melaluinya lagi?
Ya, sekarang aku tau, mungkin aku sedang stress.. Banyak yang harus kuselesaikan dalam tempo yang nyaris bersamaan, sementara waktu tak mungkin berkompromi denganku, umur tak mungkin bohong soal kemampuan otak dan daya tahan... Aku kesulitan menghandle diriku sendiri..!

Tapi benarkah aku seburuk itu? Yakin?
Remember where you belong.. Remember where you are from.... Remember the great parents who gave you birth.. Remember all the gifts HE gave to you, especially to you... Pantaskah aku jadi loser?

I dont know.. I just feel.. unsure. The only thing i need right now is : COURAGE! Keberanian menghadapi diriku sendiri.
Mungkin aku memang tidak dilahirkan seperti orang-orang lain yang selalu dikelilingi orang-orang yang mendukungnya. Mungkin aku terlahir untuk jadi suppoerter bagi diriku sendiri.
Guess, we'll figure it out!

Tuesday, January 1, 2013

Sudut Pandang Pribadi Soal Tahun Baru

Aku sudah lama mengambil sikap, tak akan merayakan tahun baru 2013 ini seperti tahun-tahun kemarin yang seolah ikut menyambut secara khusus!

Hanya saja, saat teman-teman mengajakku mengisi acara di Taman Kuliner, kuiyakan. Oops, plintat-plintut! Bukannya aku tak akan merayakannya?
Enggak.. Hanya saja, aku menganggapnya sebagai aktivitas menghibur orang lain dan menyenangkan orang lain, tak lebih!
Teman-teman di kerjaan sejak kemarin-kemarin merencanakan acara di sekitar Monjali, dan aku beberapa kali diingatkan untuk datang. Selalu kujawab: akan kususul kalau sempat.

Kalau sempat.
Kuanggap dua kata itu sebagai perisaiku untuk tidak dianggap sebagai orang yang gak asik. Gak solider. Anti-sosial.

Ya. Sebenarnya aku merencanakan akan ke sana juga setelah ngisi acara, kalau waktunya cukup, kalau tidak malas, dan lain-lain.
Dan akhirnya, aku memperoleh kondisi terbaik: hujan turun sejak sore hingga menjelang tengah malam. Acara musikal urung kuhadiri, acara Monjali malas kudatangi, aku berhujan-hujan dan setelah makan malam, kuputuskan untuk mulai nggarap tunggakan-tunggakan rekap nilai anak-anak kampus dan mulai riset kecil-kecilan, dan tak lupa nonton film-film lama, hehe..

Pada akhirnya, aku memang sendiri di kos, semua orang "merayakannya", kudengar dentuman-dentuman kembang api menjelang tengah malam (yang sejujurnya merupakan suara yang paling menyebalkan setelah suara motor yang digas maksimal.)
Ya. Sendiri, melawan arus.

Alam membantuku membuat keputusan dengan lebih mudah!

Aku berhenti membuat peringatan ulang tahun di tahun masehi.
Dan aku juga sudah berhenti merayakan tahun baru masehi.
Tak ada resolusi masehi selain resolusi monitor yang setia pada 1024 x 768 piksel! :P.
Tak ada pengharapan kecuali doa rutin kepada AlKhaliq penciptaku.
Aku harus mulai mengendalikan siapa dan apa diriku sebelum aku menerima tanggung jawab yang lebih besar di tempat manapun aku berada nantinya.
Aku berhenti menjadi bagian dari orang-orang yang merayakan hari aneh yang terjadi setahun sekali!

Mungkin kali ini aku masih mirip seonggok batu. Kubiarkan orang-orang membeli kembang api, membeli bahan-bahan makanan perkakas untuk "perayaan hari istimewa", tapi di waktu-waktu berikutnya, siapa yang tau perubahan yang kulakukan? :D

Aku berhenti merayakan tahun baru masehi.
What's next?

Yang jelas, hanya aku dan DIA yang tau ^_^

Friday, December 14, 2012

Merubah Takdir?

Orang punya berbagai sisi pandang terhadap mimpi. Mimpi yang saya maksud di sini adalah kejadian yang dialami saat tidur.
Misalnya, bagi para cenayang atau yang percaya mistis, mimpi adalah ramalan.
Atau, mimpi adalah kondisi nyata yang berpengaruh kuat hingga terbawa tidur.
Atau, mimpi adalah aktualisasi bagian dari diri  yang tidak mungkin dilakukan di dunia nyata.
Atau, mimpi adalah visualisasi dari alam bawah sadar.

Saya sendiri -- untuk saat ini -- lebih berpendapat bahwa mimpi adalah cerminan kondisi aktual kita yang divisualisasikan menjadi simbol-simbol kejadian. Dan menurut penelitian para ahli beberapa waktu lalu, versi inilah yang dianggap valid. Jadi, kalau seseorang mimpi terbang tinggi, itu adalah cerminan dari kondisi jiwanya tang terkekang dan ingin kebebasan. Saya beberapa kali pernah mimpi terbang dengan keadaan yang berbeda-beda. Dan, masuk akal juga...

Yang sekarang ini sedang in di dunia mimpi saya adalah mimpi soal rambut!
Rambut?

Ya, rambut. Saya punya janji, bahwa rambut saya tidak akan boleh dipotong sebelum saya lolos dari pendadaran!
Janji yang bagus kan?
Jauh hari, hampir setahun lalu, saat rambut saya masih cepak, saya beberapa kali mengalami mimpi punya rambut panjang hampir sebahu. Setelah dipikir-pikir, kayaknya perlu dicoba juga punya rambut panjang. Haha..
Tapi yang jadi tujuan sebenarnya adalah untuk membatasi kemalasan saya. Saya benar-benar termasuk kategori pemalas. Bahkan saat banyak orang mengatakan saya punya kemampuan lebih yang tidak dimiliki oran glain, saya masih pemalas!
Saya tau, saya tidak akan mencapai pendadaran kalau terus bermalas-malasan. Jadi saya punya ide: bikin rasa nggak nyaman aja! Kalau rambut terlalu panjang, rasa tidak nyaman akan terus mengganggu, padahal saya mengharamkan potong rambut sebelum pendadaran.
Saya sedang melawan diri saya sendiri.
Saya sedang berkomitmen! Yiihaa!!

Yang jadi persoalan, saya beberapa kali dihantui mimpi buruk! Bukan mimpi buruk juga sebenarnya. Cuma mimpi biasa-biasa saja. Tapi karena dalam mimpi itu saya merasa telah mengkhianati komitmen saya, saya merasa sangat berasalah dan terluka (hayyah!).
Saya beberapa kali mimpi potong rambut. Sengaja nggak sengaja sih. Dan ingat tidak ingat.
Tapi terlepas dari faktor lupa dan kesengajaan, bukankah dalam kehidupan nyata, seringkali orang mengingkari janjinya sendiri dengan alasan lupa atau tidak sengaja?
It all makes sense now!

Mimpi potong rambut, mimpi pindahan kos (padahal udah janji kos yang ini akan berlangsung lebih awet) adalah peringatan sebelum saya punya masalah dengan komitmen!
jadi, saya harus memperbaiki semuany. Semuanya!

Oke, saya punya komitmen di mana aja? Di kantor? Di kampus? Di keluarga?
Apapun itu, yang harus dilakukan adalah bikin suasana lebih kondusif (kondusif itu relatif, dan pada banyak hal, orang akan menjadi mendekati sempurna saat merasa tidak nyaman). jadi, kondusif artinya bisa juga "ketidaknyamanan".

Oke, kita lihat kemungkinan-kemungkinannya..
1. Skripsi: bikin kondisi nyaman: pulang kerja tidak terlalu malam dan menyempatkan diri nggarap skripsi. Atau, bikin kondisi tidak nyaman dengan menghubungi keluarga dan teman-teman lama, supaya mereka nagih terus soal skripsi, haha....!!

2. Kerjaan: bikin kondisi nyaman: pindah dan ganti suasana ruang kerja. Mungkin pindah jadi sendirian aja tanpa ada yang mengganggu.  Tapi itu berarti saat lengah dan bersenang-senang juga tidak ada yang ngingetin. Atau bikin suasana yang tidak nyaman: ngantorlah di tengah-tengah keramaian dan orang-orang jutek, supaya bisa menunjukkan pada mereka bahwa aku serius bekerja, dan targetku akan tercapai!

3. Tempat tinggal (biar nggak pindah-pindah lagi): Bikin suasana nyaman: kenali semua orang-orang di lingkungan, ambil semua hal-hal asik... Jadi bakalan betah! Hm.. Kalau kondisi tidak nyamannya?
berhubung belum kepikiran kondisi tidak nyamannya, gimana kalau dibikin sendiri aja. Bikin ikrar: AKU TIDAK AKAN PINDAH KOS LAGI! Semua orang akan mencelaku saat aku pindah lagi. Gimana, efektif?

Oke, yang jelas, sudah saatnya siap-siap solat jum'ah!
Pareng!