Assalamu'alaikum ayah...
Apa kabarmu? Aku yakin engkau sangat bahagia di sana...
Yang bisa kukatakan adalah aku kangen... Sangat kangen...
Tak seperti pada yang lain, aku bisa sewaktu-waktu pergi tidur dan bertemu mereka dalam mimpi, tapi padamu serasa sulit sekali untuk bertemu, bahkan lewat mimpi sekalipun..
Sungguh, aku masih perlu bimbinganmu....
Aku menyesali semua sikapku, sejak aku masih kanak-kanak, hingga remaja...
Akh.. Aku sering sekali mengecewakanmu....
Hingga saat kau pergi, aku tetap belum menjadi orang yang layak dibanggakan...
Masih terngiang saat aku di rumah, umurku mungkin 12 tahun.. Aku berusaha membuat papan catur dan tidak kunjung jadi. Kau katakan bahwa programku selalu tidak pernah berhasil.. Ya, aku tau, bukan cuma papan catur saja... Aku selalu ingin membuat suatu karya dan tidak ada yang berhasil dengan baik..
Aku tau, bukan maksudmu untuk mengecilkan anakmu, bukan niatmu untuk menciutkan nyali putramu, tapi kau ingin menjadi pelecut semangat untukku.
Taukah kau, ayah...
Aku hidup di kota, mempelajari banyak hal, banyak bidang.. Dan aku patut berbangga menjadi anakmu. Kau yang serba bisa, seorang petani, peternak, tukang kayu, guru ngaji, kepala sekolah, telah melahirkanku yang seorang multi-instrumentalist (yah, walaupun amatiran), seorang pemrogram yang handal, dan taukah kau ayah, bahkan di kota pun jarang ditemukan yang sepertiku. Ya, mungkin aku bukan tukang, dan tidak bisa bercocok tanam, tapi aku adalah orang spesial yang dibesarkan oleh ayah yang hebat. Dan aku sangat bangga menjadi anakmu. Saat aku mengirim ucapan-ucapan kepada kerabat kita, kucantumkan namaku dan namamu, Abdul Aziz bin Imam Rosyidi, agar mereka tau, sanak famili mereka yang tinggal nun jauh di pulau seberang dan telah tiada, salah seorang putranya telah tumbuh menjadi dewasa dan menjadi keren!
Taukah kau ayah...
Sejak kecil hingga remaja, aku tidak terlalu banyak menghabiskan waktu denganmu, tapi kupikir ada banyak momen-momen yang berkualitas, dan akan terus kuingat selama aku hidup, karena aku akan terus jadi anakmu.
Waktu aku berumur 4 tahun, aku senang sekali saat kau menyuapiku dengan makanan getuk. Bahkan seperti apa rasa getuknya seolah masih bisa kurasakan...
Kau seharusnya segera berangkat untuk menjadi imam maghrib, tapi aku terus merengek untuk terus disuapin, dan akhirnya kau meninggalkanku dalam keadaan menangis.
Aku memetik pelajaran yang kau berikan, bahwa kau mendahulukan kepentingan umat dibanding hal lain, meskipun itu keluargamu..
Suatu ketika saat aku lulus SMP, kau mengatakan bahwa kita tak mungkin merasa benar-benar mengenal seseorang hanya karena telah kenal dia selama setahun-dua tahun. Dan sekarang aku tau, 2 tahun belum bisa menunjukkan siapa seseorang terhadap kita, dan siapa kita terhadap orang lain. Itu benar. Aku sering salah menilai orang lain. Dan kupikir, banyak orang yang salah menilaiku. Sekarang aku tak mungkin mengclaim orang-orang sebagai sahabatku jika aku belum 2 tahun mengenal mereka. Thanks dad...
Taukah kau ayah...
Kau mengatakan jangan pernah bergaul dengan sembarang orang.
Bahkan aku mungkin baru berumur 7 taun saat itu...
Banyak peristiwa menunjukkan padaku, bahwa kita benar-benar terbentuk oleh lingkungan dan teman-teman. Aku sudah memutuskan untuk bergaul dengan orang-orang yang bisa saling menjaga. Di kampus, di lingkungan kerja, di tempat-tempat lain, aku selalu memilih orang untuk berteman dekat. Meskipun begitu, aku selalu belajar untuk bisa masuk pada semua jenis orang, dalam artian aku harus bisa berkomunikasi dengan semua jenis orang. Dan itu benar-benar kusebut sebuah proses pembelajaran yang sulit. Tapi satu yang kutau, aku bisa saja terjerumus pada hal-hal buruk jika aku tak pandai memilih teman. Terimakasih ayah...
Taukah kau ayah...
Meskipun kau baru meninggalkanku selama empat tahun, tapi aku tak pernah bertemu denganmu selama lebih dari 10 tahun. Bisa kau bayangkan bagaimana rasanya? Rasa kangen yang jelas tidak akan bisa diobati, karena aku tak mungkin bisa bertemu denganmu lagi di bumi ini.
Dan taukah kau ayah... Selama 10 tahun, aku selalu berharap tak usah ada lebaran, karena saat kau masih ada, aku tak mungkin pulang sebelum selesai belajar, dan saat kau sudah pergi, rasanya berkurang alasanku untuk pulang. Yang membuatku ingin pulang hanyalah melihat ibundaku, lain tidak.
Aku sangat bahagia saat menjalani Ramadhan, seolah-olah aku ingin itu berlangsung seterusnya, tanpa ada Idul Fitri yang membuat hatiku lara. Haduh... Miris hatiku...
Tapi sungguh egois... Bagaimana mungkin saat semua teman-teman dan kerabatku berbahagia saat lebaran, aku justru tak mengharap ada lebaran, selfish!
Baiklah, aku senang ada lebaran, tapi aku akan menjalani hari-hariku seperti biasa.
Tapi ayah, sungguh... Maukah kau sekali-kali datang mengunjungiku dan memberikanku nasehat..
Akh.. Bahkan ada sekalimat doa yang kau ajarkan, yang aku bingung harus menulisnya dengan cara apa saat hendak kutulis, aku ingin menanyakan ejaannya padamu sekali lagi.
Ayah...
Terkadang aku merasa tau, dari lapisan langit ketiga dan seterusnya, alam dunia ini terlihat jelas.. Aku tau kau menyaksikan, bahwa dalam beberapa sisi, aku adalah anak yang kurang ajar dan berada pada jalan yang sulit, bahkan jalan yang salah. Entah bagaimana, aku kesulitan menemukan lingkungan yang benar dan tempat bertanya. Kau tau, aku masih punya hutang janji untuk lulus. Tapi kadang merasa lucu, apakah perlu lulus dulu untuk bisa menjadi bebas dan kemudian bisa hidup dengan benar. Sungguh, aku perlu bimbinganmu.
Ayah...
Selamat idul fitri... Maafkan segala kesalahan anakmu, yang bahkan pada saat terakhirmu tidak bisa melihatmu... Meskipun aku jarang mengirimu YaSin, tapi aku selalu ingat doa yang kau ajarkan untuk kupanjatkan agar Yang Kuasa berkenan mengampuni semua dosamu. Yang kunginkan adalah kau bahagia selamanya di sana.
Tuhan, ya Rabbi. Mohon berikan tempat terbaik untuk ayahku yang luar bisa, yang telah membesarkan kami dengan baik.
Allahummaghfirliy dzunuwbiy waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaaniy shoghiiro..
Showing posts with label Unsent letter. Show all posts
Showing posts with label Unsent letter. Show all posts
Sunday, August 19, 2012
Thursday, July 19, 2012
Surat Buat My-X
Dear my X..
Apa kabar..? Pastinya baik2 saja kan... Moga2 kamu tambah oke, tambah manis, tambah baik hati, dan selalu memberi yang terbaik untuk orang-orang yang kamu cintai..
My X..
Tak terasa ya, sudah setahun lewat sejak hari bersejarah itu.. Hari di mana kamu membuat keputusan yang tepat untuk dirimu. Hari di mana kamu mulai menemukan kebahagiaan untuk dirimu, dan dia, hehe...
Ternyata sudah setahun!.
Waktu memang berlalu begitu cepat bagi orang-orang yang sibuk, dan orang-orang yang bahagia tentunya.
Sudah banyak hal yang aku lewati. Selain rutinitas yang kadang-kadang menyebalkan (tapi memang itulah interest dab garis hidupku), juga hal-hal baru yang terus coba kuambil sebagai pengalaman baru. Hidup bermasyarakat di desa, berpindah-pindah tempat tinggal, keluar masuk beberapa band, jadi asdos, ngisi acara nikahan, dan "paling parah" adalah ngamen rame-rame, haha... Tak dinyana tak disangka, ternyata jadi penghibur bukan perkara mudah. Harus siap trik dan strategi, kekompakan, dan tentu saja nyali untuk direndahkan dan dicaci-maki!
Hal terakhir yang akhirnya benar-benar kulakukan adalah membuat karya untuk diriku sendiri. Karya terakhir yang harus kubuat supaya aku lulus di umur segini: skripsi!
Rutinitas dan percobaan-percobaan baru yang tentu saja kulakukan demi diriku sendiri. Tapi, di balik itu, jujur saja, di dalam diriku aku juga melakukan hal-hal itu masih untuk kamu. Entah sebagai upaya mengukir kenangan, pembuktian, pelampiasan, atau malah pelarian diri dari kenyataan.
Ya.
Kutulis beberapa lagu yang nyawanya masih berisi tentang kamu, tentang kita.
Jauh di dalam hati, aku memang tetap menyimpan satu ruangan yang terkunci rapat. Ruangan yang di sana kusimpan namamu, dan semua kenangan soal kamu. Ruangan yang tak akan bisa diisi oleh siapapun. Kamu memang my X yang paling berkesan. Kamu pernah melontarkan kritikan saat kuungkap mengenai "milikku yang paling berkesan": "jangan-jangan karena sekarang kita sedang menjalaninya, maka kamu menganggap aku yang terbaik, kan biasanya begitu". Aku enggak setuju!
Yah, memang sih, aku juga beberapa kali mencoba ikatan-ikatan baru. Sekedar senang-senang, atau coba-coba untuk nyari pengganti kamu. Tapi tetap saja, hehe...
Tapi aku tahu kok, saat ini kamu sudah memiliki kebahagiaan yang sempurna. Satu tahun kamu jalani bersama dia, tentunya sudah membuktikan bahwa kalian lebih unggul dibanding kita. Dan sekarang aku pun bisa tersenyum mengingat bahwa kamu sudah berada pada titik terakhir yang bikin kamu happy.
Ya, aku senang saat kamu senang. Bukankah seharusnya begitu?
Dear my x..
Satu hal yang aku tahu sudah kamu ketahui sejak lama, dan aku ingin kamu mengingatnya lagi. Semua ini akan ada akhirnya. Aku tak ingin kamu bahagia di sini, tapi tidak beruntung di hari kemudian. Dua hari yang lalu, aku bermimpi melihatmu mati di depan mataku, dan kejadian itu terjadi setelah kita berdua melakukan hal bodoh. Gila kan? Hehe... Aku jadi ingat, bahwa dulu aku sering dikejar rasa bersalah saat bersama kamu. Dan kini aku makin yakin, bahwa perpisahan kita dulu adalah hal terbaik yang sudah digariskan untuk kita.
Dear my x..
Kamu punya banyak hal yang tidak dimiliki oleh orang lain, dan bahkan olehku. Aku tahu, suatu hari kamu akan bisa menggunakan kecerdasanmu untuk bisa melalui semua cobaan berupa nikmat hidup, dan akan kau temukan jalan terbaik untuk dirimu sendiri.
Janganlah lagi kamu terus mengulangi kesalahan yang terus kamu lakukan seumur hidupmu, melupakan hal-hal penting untuk kesenangan-kesenangan sesaat. Kamu harus menemukan cara yang lebih baik dalam mensyukuri semua anugerah yang kamu dapatkan dari Dia, The Who!.
Aku benar-benar ingin hal yang baik dan lebih baik selalu kamu dapatkan.
Aku tahu, aku enggak mungkin lagi untuk menemuimu dalam kondisi kita yang sekarang, jadi yang bisa kulakukan hanyalah berharap semoga kamu bisa membaca suratku ini lalu memahami maksud baikku.
Tapi, terlepas dari semua harapan dan keinginanku buatmu, aku tetap senang dengan hal-hal apa yang membuatmu senang.
19 Juli 2012, di Jogja yang keren.
Teriring salam sayang untuk kamu.
Your happy X.
Selamat menunaikan ibadah puasa, sehari lagi.
Apa kabar..? Pastinya baik2 saja kan... Moga2 kamu tambah oke, tambah manis, tambah baik hati, dan selalu memberi yang terbaik untuk orang-orang yang kamu cintai..
My X..
Tak terasa ya, sudah setahun lewat sejak hari bersejarah itu.. Hari di mana kamu membuat keputusan yang tepat untuk dirimu. Hari di mana kamu mulai menemukan kebahagiaan untuk dirimu, dan dia, hehe...
Ternyata sudah setahun!.
Waktu memang berlalu begitu cepat bagi orang-orang yang sibuk, dan orang-orang yang bahagia tentunya.
Sudah banyak hal yang aku lewati. Selain rutinitas yang kadang-kadang menyebalkan (tapi memang itulah interest dab garis hidupku), juga hal-hal baru yang terus coba kuambil sebagai pengalaman baru. Hidup bermasyarakat di desa, berpindah-pindah tempat tinggal, keluar masuk beberapa band, jadi asdos, ngisi acara nikahan, dan "paling parah" adalah ngamen rame-rame, haha... Tak dinyana tak disangka, ternyata jadi penghibur bukan perkara mudah. Harus siap trik dan strategi, kekompakan, dan tentu saja nyali untuk direndahkan dan dicaci-maki!
Hal terakhir yang akhirnya benar-benar kulakukan adalah membuat karya untuk diriku sendiri. Karya terakhir yang harus kubuat supaya aku lulus di umur segini: skripsi!
Rutinitas dan percobaan-percobaan baru yang tentu saja kulakukan demi diriku sendiri. Tapi, di balik itu, jujur saja, di dalam diriku aku juga melakukan hal-hal itu masih untuk kamu. Entah sebagai upaya mengukir kenangan, pembuktian, pelampiasan, atau malah pelarian diri dari kenyataan.
Ya.
Kutulis beberapa lagu yang nyawanya masih berisi tentang kamu, tentang kita.
Jauh di dalam hati, aku memang tetap menyimpan satu ruangan yang terkunci rapat. Ruangan yang di sana kusimpan namamu, dan semua kenangan soal kamu. Ruangan yang tak akan bisa diisi oleh siapapun. Kamu memang my X yang paling berkesan. Kamu pernah melontarkan kritikan saat kuungkap mengenai "milikku yang paling berkesan": "jangan-jangan karena sekarang kita sedang menjalaninya, maka kamu menganggap aku yang terbaik, kan biasanya begitu". Aku enggak setuju!
Yah, memang sih, aku juga beberapa kali mencoba ikatan-ikatan baru. Sekedar senang-senang, atau coba-coba untuk nyari pengganti kamu. Tapi tetap saja, hehe...
Tapi aku tahu kok, saat ini kamu sudah memiliki kebahagiaan yang sempurna. Satu tahun kamu jalani bersama dia, tentunya sudah membuktikan bahwa kalian lebih unggul dibanding kita. Dan sekarang aku pun bisa tersenyum mengingat bahwa kamu sudah berada pada titik terakhir yang bikin kamu happy.
Ya, aku senang saat kamu senang. Bukankah seharusnya begitu?
Dear my x..
Satu hal yang aku tahu sudah kamu ketahui sejak lama, dan aku ingin kamu mengingatnya lagi. Semua ini akan ada akhirnya. Aku tak ingin kamu bahagia di sini, tapi tidak beruntung di hari kemudian. Dua hari yang lalu, aku bermimpi melihatmu mati di depan mataku, dan kejadian itu terjadi setelah kita berdua melakukan hal bodoh. Gila kan? Hehe... Aku jadi ingat, bahwa dulu aku sering dikejar rasa bersalah saat bersama kamu. Dan kini aku makin yakin, bahwa perpisahan kita dulu adalah hal terbaik yang sudah digariskan untuk kita.
Dear my x..
Kamu punya banyak hal yang tidak dimiliki oleh orang lain, dan bahkan olehku. Aku tahu, suatu hari kamu akan bisa menggunakan kecerdasanmu untuk bisa melalui semua cobaan berupa nikmat hidup, dan akan kau temukan jalan terbaik untuk dirimu sendiri.
Janganlah lagi kamu terus mengulangi kesalahan yang terus kamu lakukan seumur hidupmu, melupakan hal-hal penting untuk kesenangan-kesenangan sesaat. Kamu harus menemukan cara yang lebih baik dalam mensyukuri semua anugerah yang kamu dapatkan dari Dia, The Who!.
Aku benar-benar ingin hal yang baik dan lebih baik selalu kamu dapatkan.
Aku tahu, aku enggak mungkin lagi untuk menemuimu dalam kondisi kita yang sekarang, jadi yang bisa kulakukan hanyalah berharap semoga kamu bisa membaca suratku ini lalu memahami maksud baikku.
Tapi, terlepas dari semua harapan dan keinginanku buatmu, aku tetap senang dengan hal-hal apa yang membuatmu senang.
19 Juli 2012, di Jogja yang keren.
Teriring salam sayang untuk kamu.
Your happy X.
Selamat menunaikan ibadah puasa, sehari lagi.
Subscribe to:
Posts (Atom)